Sunday, February 21, 2010
Cerita dari Kelantan
Juga diundang untuk memberi kuliah umum di Masjid Kerajaan. Tiba di bandara panitia sudah datang menjemput.Mereka terdiri dua orang gadis dan dua orang lelaki. Ramah dan baik. Saya langsung diajak untuk menemui tokoh paling dihormati di Negeri Kelantan, yaitu seorang ulama kharismatik yang juga menjabat sebagai Menteri Besar Kerajaan Negeri Kelantan,yaitu Tuan Guru Dato’ Haji Nik Abdul Aziz Bin Nik Mat.
Di rumah dinas, tempat Menteri Besar biasa menerima tamu, para wartawan dari media cetak dan elektonik telah menunggu.Ternyata di sana sudah datang terlebih dahulu seorang artis dan penyanyi terkemuka Malaysia yang kini setia mengenalkan jilbab, yaitu Wardina Shafiyyah. Tuan Guru Nik Abdul Aziz menyambut dengan senyum yang mengembang.
Kharismanya sebagai seorang ulama tampak jelas.Sayangnya beliau tidak bisa berlama-lama menemani. Sebab saya datang memang terlambat. Saya sampai di Kota Bharu pukul 12 siang lebih,yang semestinya dijadwalkan pukul 11 siang.Penyebab keterlambatan itu adalah pesawat Malaysian Air Lines yang tidak tepat waktu.Semestinya terbang dari KLIA ke Kota Bharu pukul 10.00 ternyata baru terbang pukul 11.20. Saya dijadwalkan bertemu dan berbincang dengan Menteri Besar Tuan Guru Nik Abdul Aziz pukul 11.00,dan beliau ternyata sudah menunggu sejak pukul sebelas.
Beliau pun masih setia menunggu sampai saya datang. Hanya saja tidak bisa berlama-lama menemani,sebab ada tamu lain yang juga harus beliau temui. Sementara beliau menemui tamu yang lain, saya yang baru datang diminta untuk menyantap hidangan makan siang bersama Wardina Shafiyyah dan suaminya.Sebelum makan siang, para wartawan minta konferensi pers.Banyak pertanyaan yang diajukan seputar perkembangan perfilman di Indonesia.
Ada juga yang bertanya tentang proses pembuatan film berkarakter seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat Ayat Cinta. Saya sempat menunggu-nunggu adakah wartawan yang akan menanyakan hal berkaitan dengan Manohara. Sebab saya sedang berada di tempat Manohara pernah membuat kisah yang banyak mendapat perhatian di Indonesia.Ternyata tidak ada satu pun yang menyinggung masalah itu.Semuanya fokus menanyakan segala hal yang berkaitan dengan seluk beluk perfilman dan sastra.
Adzan dhuhur berkumandang, Menteri Besar mengajak shalat berjamaah. Saya tidak ikut karena ada bagian dari pakaian saya yang kotor, saya memilih untuk menjama’ shalat dengan jama’ ta`khir.Selesai shalat berjamaah Menteri Besar kembali menemui saya. Kami berbincang- bincang sebentar. Lalu bagian dokumentasi Kerajaan Negeri Kelantan meminta saya berfoto bersama Menteri Besar Tuan Guru Nik Abdul Aziz.
Setelah itu panitia mengajak saya langsung ke acara inti yaitu talk show di KB Mall Kota Bharu Kelantan. Panitia memberi tahu pengunjung telah membludak.Saya meminta pengertian panitia untuk membawa saya ke hotel dulu.Sebab saya baru tiba dari bandara, saya perlu cuci muka dang anti pakaian.
Sebenarnya sejak awal saya ingin ke hotel dulu dan berpakaian lebih rapi ketika bertemu dengan Tuan Guru Nik Abdul Aziz. Tetapi waktu tidak memungkinkan, Tuan Guru sudah lama menunggu. Akhirnya saya ikut saja. Maka ketika saya diajak langsung ke KB Mall, saya minta pengertian panitia. Dan mereka setuju. Saya dibawa ke Kelantan Trade Centre untuk membersihkan badan dan ganti pakaian. Acara talk show di KB Mall berjalan hangat.Pengunjung membludak.
Yang unik adalah background panggung dan hiasan Mall seratus persen bernuansa China. Karena hari itu memang bertepatan tahun baru China. Akan tetapi acara sesungguhnya adalah Festival Hari Hiburan Islam. Dalam acara itu tampak jelas kerinduan masyarakat Malaysia akan hadirnya film-film Islami di Malaysia. Masyarakat Malaysia mengakui dalam hal kreatifitas pembuatan film Islami pun Malaysia masih tertinggal beberapa langkah dari Indonesia.
Mereka takjub dengan yang terjadi di Indonesia.Mereka merindukan adanya audisi pemilihan bintang film yang bermoral seperti yang dilakukan di Indonesia melalui film Ketika Cinta Bertasbih. Hari berikutnya, saya menyempatkan diri melihat rumah kediaman Menteri BEsar sederhana dan paling bersih di Malaysia. Saya memang ingin melihat langsung seperti apa rumah tokoh besar yang namanya tercatat dalam 50 tokoh Islam berpengaruh didunia dan dimuat dalam buku berjudul ”The 500 Most Influential Muslims” yang dieditori oleh Prof. John L Esposito dan Prof Ibrahim Kalin.
Rumah MEnteri BEsar Nik Abdul Aziz memang biasa saja, sama dengan umumnya rakyat Malaysia. Rumah itu ada di samping masjid, berada di komplek lembaga pendidikan yang didirikannya. Tak ada penjaga.Tak ada protokoler.Tak ada polisi yang tampak. Benar-benar biasa.
Siapa pun bisa menemui Menteri BEsar ini jika beliau ada di rumah. Siang itu beliau tidak ada di rumah. Saya memang tidak membuat janji untuk itu. Saya ditemui salah satu putra beliau yang juga bersahaja. Dari cerita orang-orang Kelantan, ternyata Menteri Besar Dato` Nik Abdul Aziz dikenal orang yang sangat dekat dengan segala lapisan masyarakat. Ada kebiasaan unik yang dilakukan pemimpin paling kharismatik di Malaysia ini.
Setiap hari Jumàt, tepatnya setelah shalat shubuh, Menteri Besar yang juga ulama besar ini selalu menyediakan diri menjadi tukang cukur bagi rakyatnya. Maka tak heran, jika setiap hari Jumàt, masyarakat berdatangan shalat shubuh di masjid beliau, dan beliau yang menjadi imam shalat. Selesai shalat shubuh puluhan orang bersiap diri untuk dicukur rambutnya oleh beliau. Dan beliau melakukan hal itu dengan penuh rasa sayang pada rakyatnya.
Kebiasaan beliau yang lain. Selama ada di kantornya,jika bukan untuk urusan Negara maka beliau akan mematikan semua fasilitas yang ada di sana. Misalnya jika dia harus shalat pada waktu malam, karena shalat adalah urusan pribadi dan bukan urusan Negara,dia mematikan lampu dan AC yang ada di ruangannya. Kepribadian ini mengingatkan pada kepribadian Umar bin Abdul Aziz.
Tak heran jika Dato` Nik Abdul Aziz ini,pada tahun 1998 dinobatkan oleh Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERAK) sebagai Menteri Besar - kalau di Indonesia sepadan dengan gubernur- yang memiliki reputasi paling bersih di Malaysia.Anugerah itu diberikan sebagai penghargaan atas usaha beliau menentang gejala bentuk suap dan korupsi selama memerintah Negeri Kelantan selama hampir 18 tahun.
Tiga hari saya berada di Malaysia, dan saya menjumpai betapa cintanya penduduk Kelantan pada Tuan Guru mereka,kepada ulama mereka yang juga menjadi Menteri Besar mereka. Ada kalimat Tuan Guru Dato` Haji Nik Abdul Aziz yang diingat selalu oleh rakyatnya, yaitu, ”Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menyatukan hati banyak orang. Bukan pemimpin yang hanya mampu menggunakan kekuasaannya untuk membatasi ini dan itu.
” Selama tiga hari juga,saya masih penasaran kenapa tidak satu orang pun yang menyinggung Manohara. Akhirnya pada suatu jamuan makan bersama beberapa panita, salah seorang dari mereka menanyakan kasus Manohara. Dia bertanya, apakah citra Kelantan sedemikian buruk di Indonesia. Saya jawab,mungkin iya.Tampak dia agak sedih.
Saya lalu balik bertanya sebenarnya bagaimana masyarakat Kelantan memandang kasus Manohara? Orang itu menjawab,mayoritas masyakarat Kelantan tidak tahu menahu tentang kasus Manohara. Tidak ada beritanya sama sekali di Kelantan.Dan itu juga bukan urusan pihak Kerajaan Negeri Kelantan, tetapi itu urusan dalam rumah tangga Istana Raja. Dia sendiri memandang tidak ada yang bisa dibenarkan dalam kasus Manohara.Menurut dia keduaduanya salah. Dia berkata,”Mereka bertemu secara tidak baik-baik,dan berpisah juga dengan tidak baikbaik.
Itu masalah dua anak kecil yang tidak baik,tetapi disangkutpautkan dengan negara.’ Paling tidak mendengar hal itu, saya telah mengetahui satu sudut pandang masyarakat Kelantan tentang kasus itu. Kenyataan yang saya temui, masyarakat awam Melayu Kelantan sangat menghargai bangsa Indonesia. Dan masih mengakui Indonesia sebagai bangsa besar.
Seorang di antara mereka dengan jujur mengatakan kepada saya, ”Indonesia adalah ikon Islam di Asia Tenggara.Jika Indonesia tegak, maka umat Islam di Asia Tenggara termasuk Malaysia tegak. Jika Indonesia runtuh yang lain juga akan runtuh.”
Habiburrahman El Shirazy
Budayawan Muda, Penulis Novel Ketika Cinta Bertasbih
Sunday, January 10, 2010
HIMPUNAN RIBUAN UMAT
AL-HUSAINI AL-HADRAMI ulamak besar Hadramaut,Yaman yang merupakan salah seorang dari keturunan AHLUL BAIT.Walaupun menempuh beberapa kesukaran untuk sampai ke destinasi yang agak jauh juga,iaitu Masjid Al-Falah USJ9 Subang Jaya akhirnya hasrat hati yang telah lama terpendam untuk mendengar secara langsung ungkapan-ungkapan mutiara dari ulamak hebat serta terkanal ini termakbul jua dengan izin Allah.Ribuan yang hadir bagi meraikan kehadirannya serta sudah pastilah ingin mengambil mutiara ilmu dari syeikh yang terkenal dengan kealiman serta keilmuannya sehingga memenuhi keseluruhan ruang masjid.

Ungkapan-ungkapan indah dengan penuh bersemangat menceritakan kepentingan mencintai rasulullah juga sunnah yang ditunjukkan oleh para sahabat dalam mencintai kekasih Allah itu pasti meruntunkan setiap jiwa yang mendengarnya.Ramai hadirin yang menitiskan air mata kerana terkesan dengan apa yang diungkapkan oleh syeikh.
ribuan hadirin yang sedang khusyuk mendengar ungkapan mutiara dari al-habibLatar Belakang al-Alamah al-Habib Umar al-Hafiz
Al-Alamah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Abdullah bin Abi Bakr bin Idrus bin Umar bin Idrus bin Umar bin Abi Bakr bin Idrus bin al-Husin bin al-Shaikh Abi bakr bin Salim bin Abdullah bin Abd. al-Rahman bin Abdullah bin al-Shikh Abd. al-Rahman al-Saqaf bin Muhammad Maulay al-Duwailah bin Ali bin Alawi bin Muhammad sahib al-saumiah ibn Alawi bin Abdullah bin al-Imam al-Muhajir ila Allah Ahmad bin Isa bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Aridhy bin Jafar al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abiddin bin al-Husin al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib dan anak Fatimah al-Zahra’ binti Saidina Muhammad Khatam al-Nabiyin selawat, salam dan keberkatan ke atasnya dan ke atas mereka seluruhnya.Merupakan generasi ke 39 dari keturunan rasulullah S.A.W.
Dilahirkan di Bandar Tarim, Hadramaut Negara Republik Yaman sebelum fajar hari Isnin 4 Muharam 1383H bersamaan 27 Mei 1963M. Mendapat pendidikan awal daripada bapanya yang ketika itu menjawat jawatan mufti di Tarim. Seterusnya menerima ilmu daripada ulamak-ulamak Hadramaut yang ada pada masa itu, antara guru beliau yang utama ialah al-Habib Salim bin Abdullah al-Shathry. Bermula tahun 1402H bersamaan 1982M al-Alamah al-Habib Umar berulang-alik ke al-Haramain al-Sharifain untuk menimba ilmu dan tarbiyah daripada al-Imam al-Arif al-Daiyah al-Habib Abd al-Qadir bin Ahmad al-Saqaf, al-Arif al-Daiyah al-Habib Ahmad bin Taha al-Hadad, al-Arif al-Alamah Abi Bakr al-Athas bin Abdullah al-Habasi dan beliau menerima ijazah al-Asanid daripada al-Musnid al-Shaikh Muhammad Yasin al-Fadany dan al-Alamah Muhadith al-Haramain al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky dan ulamak-ulamak lain.
Beliau mula mengajar dan melaksanakan tugasan dakwah Islam ketika berusia 15 tahun disamping meneruskan pengajian secara talaqi. Berdakwah, mengajar dan belajar telah sebati dalam jiwa beliau. Pada tahun 1414H bersamaan 1994M apabila kembali ke tanah tumpah darahnya, beliau telah mengasaskan sebuah pusat pendidikan Islam yang diberi nama “Dar al-Musthafa” di Bandar Tarim Hadramaut. Ini berikutan daripada pelajar-pelajar yang datang dari beberapa Negara Islam untuk menerima didikan daripada beliau. Diperingkat awal penubuhan Dar al-Mustafa diasaskan atas beberapa matlamat seperti berikut:-
1. Menimba ilmu syariat dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya secara talaqi daripada guru-guru yang berkeahlian dalam bidang tersebut berserta sanad mereka
2. Membersihkan jiwa serta mendidik akhlak.
3. Mengarusperdanakan ilmu-ilmu yang bermanafaat serta dakwah kepada Allah.
Akhirnya Dar al-Musthafa mampu membangunkan tapak pengajian sendiri yang dinobatkan secara rasmi sebagai sebuah pusat pengajian dan pendidikan Islam pada 29 Zulhijjah bersamaan 6 Mei 1997. Kini Dar al-Mustafa begitu mendapat perhatian daripada pelajar-pelajar seluruh dunia Islam, ditambah pula graduan-graduannya telah diiktiraf oleh al-Azhar al-Sahrif dan kebanyakan universiti terkemuka dunia Islam.
Al-Alamah al-Habib Umar al-Hafiz telah banyak menbuat lawatan dakwah Islami dan menyampaikan ilmu syarak ke negara-negara Islam lain seperti Syria. Mesir, Sudan, Pakistan, Indonesia, Brunei Darussalam dan Negara kita Malaysia saban tahun.
Monday, January 4, 2010
Muhasabah Kehidupan
Maafkan diri ini wahai teman,andai dalam menempuh duri kehidupan untuk mencari sebuah kematangan,diri kalian ku bebankan pelbagai kesusahan mungkin juga sedikit gangguan.Terkadang malu kepada kalian,pada mata yang memandang...diri ini hamba tuhan yang tiada apa untuk dibanggakan melainkan sentiasa adanya penyesalan untuk terus ku lakukan perubahan demi perubahan.
Aku hanyalah hamba tuhan yang belajar dari kesilapan..Moga usia yang makin bertambah mematangkan diri untuk mengenal erti sebuah kehidupan agar aku tidak terleka dalam menuju sebuah destinasi yang masih jauh untuk kutempuhi.Muda hanya sekali bukan bererti waktu untuk berjoli tapi mencari bekalan untuk sebuah kehidupan(SHABAB AL-YAUM RIJAL AL-GHAD)..
P/S:tahun ni usia dah nak menjengah 23 tahun tapi masih banyak yang nak dicapai yang tak kesampaian.HIDUP ADALAH SUATU PERJALANAN.
Wednesday, November 11, 2009
ZOOMING MUHASABAH PEJUANG ISLAM
Taubat Seorang Pejuang – Ustaz Nasaruddin Tantawi
November 18, 2008 ·
Masih terngiang – ngiang di telinga saya , perkataan yang pernah dipopularkan oleh al Imam Hassan al Hudhaibi . Perkataan ini sering diulang – ulang oleh naqib saya Syeikh Ahmad Laasyin ( beliau pernah dipenjara bersama Asy Syahid Syed Qutb Rhm ) , dulunya beliau adalah Imam Masjid Syahid di Tanta .
Saya lekatkan banner perkataan tersebut di dinding rumah saya sewaktu menginap di Syari’ al Hulwa berhadapan dengan Madrasah Jil Muslim lil Banat di Tanta satu masa dulu . Masih segar pastinya dalam ingatan ini bersama rakan – rakan seperjuangan yang sangat menghayati makna dan maksud perkataan tersebut.
Perkataannya ringkas tapi nyata ia cukup besar maknanya bagi diriku sebagai seorang pejuang . Ianya bagai satu energy yang cukup luar biasa bagi diri saya sewaktu meredah segala cabaran dan merempuh segala halangan untuk berjaya mencapai status seorang pejuang.
Juga masih dalam ingatan ini , sewaktu kami para nuqaba’ menjalani terapi muhasabah di satu subuh yang hening . Naqib saya masa tu Ust. Musthafa Saari dibantu Ust. Zulqarnain Hassan telah membuat dua garis . Satu garis permulaan dan satu lagi garis akhir . Jarak antara garis mula dengan garis akhir sekitar 10 kaki ( lebih kurang 20 tapak ) .
Kami lebih kurang 12 orang ( kalau tak salah ingatan saya ) berbaris digaris mula dengan arahan supaya memberi fokus kepada setiap tapak yang akan kami lakukan menuju ke garis akhir . Itu pun kalau setiap aktiviti dan amal Islami yang dibacakan oleh Naqib satu persatu dengan penuh tertib telah dilakukan oleh kami secara jujur dan benar .
Setiap amal dan aktiviti yang tidak kami lakukan , pastinya ia mematikan langkah kami . Ada 20 amal dan aktiviti yang dibacakan oleh Naqib dan memadai dengan 20 langkah untuk kami sampai ke garis akhir dengan satu amal yang dilaksana bersamaan satu langkah .
Ayat tema kepada terapi muhasabah ini adalah perkataan yang saya maksudkan tadi :
أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم تقم على أرضكم
Tegakkanlah Negara Islam di dalam diri kamu nescaya ia akan tertegak di atas tanahair kamu.
Terapi Muhasabah yang Menginsafkan
Di pertengahan jalan menuju ke garis akhir , nyata waktu itu saya agak terkebelakang berbanding sahabat – sahabat yang lain seperti meluru laju kerana setiap amal yang disenaraikan oleh Naqib rupanya dilakukan oleh mereka dengan baik . Sementara saya gagal dalam banyak amal Islami yang sepatutnya menjadi kewajipan kepada kami para nuqaba’ melakukannya.
Ya, saya masih ingat bagaimana saya gagal untuk puasa isnin dan khamis malah saya juga gagal menginfaqkan sebahagian harta yang saya miliki pada minggu tersebut. Kegagalan demi kegagalan sudah pasti mematikan langkahan saya dan akhirnya saya mula menyedari bahawa kedudukan saya dengan garis akhir agak jauh .
Kedudukan ini tentu sahaja menyebabkan naqib saya (amir) tidak berpuas hati dengan prestasi saya selaku salah seorang dari para nuqaba’ harapannya.
Lalu saya disergah oleh Ust. Musthafa . ” Ust. Din ! anta tengok kedudukan anta sekarang , masih terlalu jauh untuk sampai ke garis akhir ! Anta tahu apa maksudnya ? Maksudnya anta gagal untuk layak sebagai seorang pejuang ! “
Saya cuba bertahan . Menahan gelora emosi yang mula diserang rasa bersalah kerana mengabaikan tanggungjawab sebagai seorang pejuang .
Ust Zulqarnain menambah : ” Ust. Din , kalau macam ni keadaan anta macam mana anta nak jadi pemimpin ? Memimpin Gerakan Islam tidak seperti memimpin persatuan kebajikan ! Kenapa minggu ini prestasi amal anta terlalu lemah ? anta lupa tanggungjawab ? anta bermain – main dengan perjuangan ini ? anta ingat nak jadi pejuang cukup setakat pandai pidato ? kemana perginya semua taujihat yang kami berikan kepada anta selama ini ? “
bertalu – talu persoalan diterjah kepada saya oleh Ust Zulqarnain . Perasaan saya makin sukar dikawal dan akhirnya dalam suasana yang penuh hening disubuh hari , saya menangis kesal . saya meraung penuh insaf .
Suasana agak emosional , saya hampir pengsan dalam esakan yang cukup memilukan , mengenang diri yang nyata tidak layak untuk menjadi seorang pejuang sedang saya selalu mendambakan status sebagai seorang pejuang , malah saya bangga memperkenalkan diri kepada sahabat – sahabat bahawa saya adalah seorang pejuang . Saya malu …
Saya ingat lagi , agak lama juga saya diselubungi rasa bersalah dan saya menangis dan terus menangis sehingga memaksa rakan – rakan anggota madrasah Nuqaba’ yang turut menyertai Terapi Muhasabah itu , memujuk dan menyabarkan saya .
Demikian secebis kenangan 14 tahun yang lalu sewaktu saya direkrut dan dikaderkan oleh abang – abang yang lebih senior dalam perjuangan ini . Sebahagian mereka kini menjadi pemimpin , memimpin Gerakan Islam di negeri masing – masing . Pun turut di akui , ada juga mereka yang dulunya mentarbiyah saya , kini mereka hilang dari peta rajah perjuangan di tanahair hari ini . Mungkin mereka berjuang di luar negara . Wallahua’alam .
Bukan Zaman Rekrut
Sekarang saya dan kita semua berada di medan berbanding sebelumnya kita bagaikan berada di kem . Ertinya kita bukan lagi berada di madrasah nuqaba’ dan tidak juga berada di dalam tamrin panjang ( mua’skar ) yang mana kita dibina , dilatih , dibentuk , dikader , ditegur , dimarah , dibimbing , dipimpin , diajar dan dinasihat oleh pimpinan .
Hari ini kita bergerak meredah cabaran dan menyerap tekanan dengan tahap upaya sendiri berbekalkan skima pentarbiyah yang telah diambil sejak sekian lama .
Cukup lama diri ini tidak ditegur , dididik , dimarah , dibimbing , dinasihat , diajar dan dikader seperti dulu . Logiknya , kalau dulu pun ( dalam suasana pengkaderan ) saya masih gagal dalam banyak aktiviti amal islami , bagaimana saya boleh berjaya dalam suasana begitu lama saya tidak dibimbing dan ditegur ?
Taubat
Sukar sungguh untuk layak jadi pejuang yang tangguh dan tahan uji . Mungkin saya boleh berjaya dalam satu bahagian tetapi gagal dalam banyak bahagian yang lain . Berhadapan pula dengan tekanan dan cabaran dari luar serta tidak kurang karenah dalaman yang cukup menguji kesabaran .
Antara yang membuat diri ini sering gagal ialah keupayaan dan stamina diri yang masih lemah dalam menangkis serangan kemahuan ( nafsu ) yang datang dari diri sendiri . Ianya sering memerangkap dan menjadikan diri ini leka dan lalai dari tanggungjawab dan amanah sebagai seorang pejuang dan pemimpin .
Banyak sungguh dosa diri ini ! Ya Allah , Ampunkan daku ! Syaithan tentu saja gembira dengan perkembangan ini . Ya Allah ! Janganlah Kau biarkan diriku yang lemah ini terkapai – kapai dihanyutkan arus leka dan lalai dibuai nafsu .
Ya Rabbi Ya Allah ! Kurniakan hidayahMu buat diri ini agar aku mampu thabat di atas landasan perjuangan suci ini . Biarpun aku tidak layak menjadi pemimpin tetapi jangan sekali – kali kau biarkan aku tidak layak untuk menjadi pejuang agamaMU ya Allah !"
Tuesday, October 13, 2009
SOAL HATI...
Antara untaian meseg yang dikirimkan sahabat yang cukup bermakna dan memberi kesan terhadap diri ini.Hati tempat jatuhnya pandangan tuhan cukup menyedarkan diri untuk sentiasa mendidik jiwa agar sentiasa memelihara suatu nikmat yang cukup berharga.
sabda nabi saw:
"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati."Muttafaq 'Alaih, dari Nu'man bin Basyir, yang merupakan bagian daripada hadith, "Yang halal itu jelas, dan yang haram itu juga jelas"
Itulah hakikat hati yang perlu sentiasa dibajai agar tidak dihinggapi pelbagai kotoran yang yang akhirnya memalitkan diri dengan riak,ujub,takbur,sum'ah dan pelbagai penyakit yang zahirnya tidak kelihatan akan tetapi hakikatnya ia membarah dalam diri dan merosakkan peribadi seseorang individu muslim.
"Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu." Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.
Bagi individu yang secara langsung menginfakkan diri untuk terlibat di dalam amal islami dan amal jamie sifat ini juga memberi kesan langsung tehadap intimaknya seseorang individu terhadap jamaah.Bagaimana keadaan diri apabila cadangan yang dikemukakan tidak diterima oleh pimpinan,ingin menonjolkan diri kerana merasakan diri mempunyai kelebihan,memandang rendah pada individu lain dan banyak lagi yang juga merupakan persoalan yang berkaitan dengan hati dan sekiranya tidak dirawat akhirnya membawa kepada futur dan yang lebih memburukkan keadaan apabila berpaling arah dan akhirnya menjadi musuh kepada jamaah itu sendiri.
Inilah realiti dan hakikat yang berlaku pada hari ini,apabila kepimpinan dikritik dengan mengetepikan adab-adab dalam berjamaah,perbezaan pendapat yang tidak diraikan dan hakikat ini jelas bukan berlaku dalam kalangan ahli biasa, bahkan melibatkan mereka-mereka yang telah melalui proses tarbiah yang berterusan.
Betapa besarnya persoalan yang berkaitan hati...tempat jatuhnya pandangan tuhan yang maha pencipta,hakikatnya hati ini adalah miliknya dan kepadanya segala pengharapan agar hati yang sifatnya mudah untuk berbolak balik, juga mudah terkesan dengan segala noda ini tetap thabit untuk meletakkan jalan iman sebagai landasan dan seterusnya proses tazkiah nafsiah merupakan suatu agenda berterusan yang seharusnya menjadi keutamaan kepada setiap individu muslim dan tidak dapat tidak bagi susuk peribadi yang secara langsung terlibat dengan jamaah islam.
Monday, September 14, 2009
Ramadhan : Batalkah
Puasa Kita Jika…
Oleh : Zaharuddin Abd Rahman
(ULANGAN SIAR PADA 2 SEPT 2008)
Ulama terbilang dunia ketika ini, Dr Yusoff Al-Qaradhawi pernah menyebut dan meluah rasa kurang setuju beliau dengan tindakan para ulama yang terlalu meluaskan perbuatan yang membatalkan puasa. Beliau lebih setuju untuk mengecilkan skop dan ruang lingkup pembatalan puasa kepada perbuatan yang benar-benar terdapat dalil tepat dari al-Quran, al-Hadith dan disepakati ulama sahaja.
Beliau berpendapat perbincangan panjang lebar oleh ulama silam, antaranya para ulama dari mazhab Hanafi dan ulama mazhab-mazhab lain menyebut sekitar 57 bentuk perbuatan yang membatalkan puasa adalah adalah tindakan yang kurang sesuai. Malah ia juga amat digemari oleh ulama masa kini sehingga terdapat yang menghabiskan masa begitu lama untuk merangka fatwa, berijtihad dan meletakkan kaedah bagi sesuatu perbuatan. Adakalanya ia adalah isu yang tidak memerlukan perhatian begitu mendalam.
Masalah ini dilihat semakin bertambah, apabila ijtihad dalam bab ini semakin bercambah hingga menyebabkan kesukaran orang kebanyakkan (awam) menjalankan ibadah ini dengan tenang kerana perincian perbuatan yang membatalkan puasa amat cabang (furu’) dan terlampau banyak. Ia menyebabkan orang awam yang terhad kemampuan, masa dan rujukan sering berada dalam kebimbangan dengan isu batal dan tidak batal puasa ini. Lebih dikesali adalah perbincangan tentang ini juga ada meninggalkan perbincangan yang lebih besar berkenaan Ramadhan. (Taysir al-Fiqh – Fiqh As-Siyam, hlm 86-87)
Sebagai contoh, antara isu terbesar yang patut diberikan fokus mendalam di waktu Ramadhan adalah :-
1) Raih Taqwa : Firman Allah yang mengarahkan kita berusaha meraih taqwa di dalam bulan ini. Perbincangan berkenaan kaedah, cara dan cabaran yang boleh menghalang kita mencapai target ini perlu diberikan perhatian lebih.
2) Bulan Ingatan Fungsi Al-Quran : Firman Allah yang menyebut bahawa Al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan ini sebagai petunjuk, dan bukti kebenaran petunjuk dan pembeza di antara haq dan yang batil. Justeru perbincangan berkenaan kemestian umat Islam kembali kepada Al-Quran sebagai satu-satunya formula untuk berjaya sebagai golongan bertaqwa dan selamat dunia akhirat perlu diperhebat.
3) Amaran Terhadap Pengikis Pahala Ramadhan Yang ‘Confirmed’ : Sabda-sabda Nabi berkenaan tindakan yang boleh menghapuskan pahala puasa Ramadhan seperti bercakap kotor, nista, carut dan perbuatan jahat dan keji di waktu bulan ini. Ia perlu dipertekankan kerana ia adalah perkara yang disepakati bakal merosakkan pahala puasa seseorang walaupun ia tidak sampai membatalkan zahir puasanya.
4) Kaedah Penambah Pahala & Redha Allah di Bulan Ramadhan Yang ‘Confirmed’: Sabda-sabda Nabi yang mengandungi janji-janji dan tawaran Allah di bulan ini juga perlu diperluas kepada orang ramai agar semakin ramai yang berpotensi ke Syurga Allah sekaligus melemahkan fungsi Syaitan dan nafsu amarah yang sentiasa ingin mengajak kepada kemaksiatan.
Adapun isu perkara yang membatalkan puasa, sewajarnya ditumpukan kepada hukum yang disepakati sahaja. Justeru, larangan yang disepakati tatkala puasa adalah menahan nafsu syahwat, menanggung lapar dan dahaga serta menahan diri dari bersetubuh dengan isteri di siang hari dengan niat ikhlas ibadat kerana Allah. Inilah yang dijelaskan dari al-Quran dan as-sunnah, demikian juga menjauhi kata-kata nista, bohong, mengumpat, cercaan dan lain-lain dosa anggota demi kerana Allah. Ia disebut di dalam ayat al-Baqarah : 187 dan disokong oleh hadith-hadith yang banyak.
Merokok, keluar darah haid atau nifas dan hilang aqal adalah dipersetujui secara sepakat ulama membatalkan puasa.
Adapun yang tidak disepakati, boleh dibincangkan cuma jangan sampai ia mengambil perhatian utama kita apabila berada di dalam Ramdhan. Sebagai panduan, berikut disertakan beberapa hukum secara ringkas berkaitan puasa yang kerap ditanya oleh orang ramai :-
1) Darah keluar dari tubuh ; samada untuk berbekam, ambil darah pesakit, menderma darah, tercedera, darah dari hidung, tangan dan lain-lain.
Hukumnya : Tidak batal puasa kerana yang membatalkan adalah yang masuk ke tubuh melalui saluran terbuka hingga ke perut dan bukannya ‘yang keluar’ dari tubuh. (As-Siyam Muhdathatuhu wa hawadithuhu, Dr Muhd ‘Uqlah, hlm 215). Manakala pandangan pembatalan puasa dengan berbekam yang berdalil hadith riwayat Abu Daud dan Ibn Majah dengan sanad sohih menurut Imam An-Nawawi, ia telah di pinda (nasakh) dengan hadith dari Ibn Abbas yang menyebut Nabi SAW berbekam dalam keadaan baginda berpuasa. (Riwayat Al-Bukari, 3/43) kerana hadith dari Ibn Abbas ini berlaku tatkala Haji Wida’ dan terkemudian dari hadith yang menyebut batal kerana bekam. (Tasysir al-Fiqh, Qaradawi, hlm 90). Malah ini juga padangan majority mazhab kecuali Hanbali. ( Bidayatul Mujtahid, 1/247)
2) Memasukkan sesuatu ke dalam rongga terbuka dan dikeluarkan kembali tanpa sampai ke perut dan yang seumpamanya di bahagian kepala.
Ia seperti memasukkan alat tertentu ke dalam kemaluan wanita atau dubur ketika proses perubatan yang berkaitan, demikian juga memasukkan jari ke dalam hidung, telinga, mulut dan dubur.
Hukumnya : Tidak membatalkan puasa kecuali jika alatan itu dibiar tinggal di dalam kemaluan tadi, kerana illah @ faktor penyebab batal puasa adalah masuknya sesuatu berfizikal ke perut. Terkecuali juga, wanita atau lelaki yang memasukkan jarinya ke dubur atau kemaluannya dengan tujuan nafsu, maka ia membatalkan puasa, tetapi jika tujuan istinja’ atau membasuhnya maka hukum yang lebih kuat menurut para ulama adalah tidak batal. (As-Siyam, Dr Md ‘Uqlah, hlm 211). Ini juga dipersetujui oleh Syeikh Atiyyah Saqar yang mengatakan masuk sesuatu ke telinga dan hidung yang tidak sampai ke perut atau bahagian otak adalah tidak membatalkan puasa. (Min Ahsanil Kalam fil Fatawa). Tidak dinafikan terdapat fatwa yang mengatakan batal, justeru, nasihat saya adalah lebih baik menjauhinya kiranya tiada tujuan yang agak mendesak. Kerana menjauhi yang khilaf (perbezaan pendapat) itu lebih baik.
3) Pil elak haid untuk puasa penuh :
Hukumnya : Harus dengan syarat tidak membawa mudarat kepada pusingan haidnya, dan memerlukan nasihat doktor Islam yang berwibawa. Namun yang terbaik adalah tidak menyekat haid, dan tidak menganggu kitaran fitrah yang telah ditentukan oleh Allah swt. selain itu wanita sedang haid juga masih boleh melaksanakan pelbagai jenis ibadah.
4) Penyembur gas untuk pesakit lelah :

Hukumnya : Baru-baru ini pada bulan Julai 2007, Persidangan Majlis Fiqh Antarabangsa di Putrajaya ada membincangkan isu ini. Tidak dinafikan ia satu isu yang amat kerap dibincangkan oleh para ulama seantero dunia dan mereka berbeza pandangan apabila sebahagian menyatakannya batal dan sebahagian lain menolak.
Menurut kajian terperinci bantuan para doktor, mendapati gas semburan itu punyai jisim-jisim putih yang jelas kelihatan jika di sembur di atas kertas. Selain itu, hampir 90 % darinya akan terus masuk ke tekak dan melekat di esophagus dan terus ke perut. Ini bermakna ianya jisim-jisim gas itu masuk ke perut setiap kali semburan. Justeru sudah pasti ia membatalkan puasa. Demikian pandangan awal dari Majlis Fiqh Antarabangsa yang bersidang Juali 2007 baru-baru ini, tetapi kemudiannya mereka menarik balik keputusan mereka untuk dibincangkan lebih terperinci dalam persidangan akan datang.
Bagaimanapun para ulama masih perlu bergantung kepada makumat jelas dari para doktor bagi memberikan fatwa tepat kerana Syeikh At-Tantawi, Syeikh Dr Muhd ‘Uqlah, menyebut hukumnya tidak batal kerana gas itu hanya terhenti di paru-paru dan tidak masuk ke perut. Manakala, ubat lelah jenis hidu melalui hidung adalah membatalkan puasa kerana ia akan masuk ke bahagian kepala. (As-Siyam, Dr Md Uqlah, hlm 226)
Namun jelas para ulama berhati-hati dalam memberikan keputusan dalam hal ini kerana menyedari walaupun serbuk-serbuk dari inhaler tersebut boleh memasuki ruang perut, namun ia adalah satu keperluan buat pesakit athma dan tidak pula dilaksanakan secara saja-saja, bukan pula kerana nafsu lapar.
5) Suntikan ke dalam tubuh melalui tangan, kaki selain rongga terbuka yang asal:
Hukumnya : Terdapat dua jenis : samada untuk berubat atau untuk menguatkan. Jika ia digunakan untuk mengurangkan demam, bius, pain killer dan apa jua tujuan asas perubatan, ia disepakati tidak membatalkan puasa (Al-Qaradawi, hlm 100 ; ‘Uqlah , hlm 226). Demikian juga hukumnya suntikan kalsium dan sebagainya untuk kekuatan badan demi perubatan.
Berkenaan suntikan makanan, air seperti glukos dan sepertinya untuk tujuan perubatan; para ulama sekali lagi berbeza pandangan : Pandangan majoriti adalah : Tidak membatalkan puasa kerana ia tidak masuk ke dalam tubuh melalui rongga terbuka dan ia tidak mengenyangkan serta tidak bercangah dengan hikmah puasa. Ia adalah fatwa oleh Syeikh Dr Yusof Al-Qaradawi, Syeikh Md Bakhit, Syeikh Abd Rahman Taj, Syeikh Ahmad As-Syurbashi, Keputusan Lajnah Fatwa Azhar tahun 1948 (Taysir Al-Fiqh As-Siyam, hlm 100; Fatawa Syar’iyyah, hlm 268 ; Yasalunaka, 5/53 dll ).
Bagaimanapun, suntikan jenis makanan ini membatalkan puasa terutama jika dilakukan secara sengaja untuk melarikan diri dari ujian keletihan lapar dahaga puasa.
6) Berkumur-kumur dan air masuk ke rongga hidung semasa wudhu.
Hukumnya : Tidak membatalkan puasa, cuma jika berlebihan berkumur ulama Syafie mengatakannya terbatal. Justeru, jauhilah berlebihan di ketika puasa dalah lebih baik.
Ia berdasarkan hadith : “Sempurnakan wudhu , basuhlah celah-celah jari jemarimu, dan lebih-lebihkan menyedut air ke hidungmu kecuali tatkala kamu berpuasa ( Riwayat Abu Daud , no 142 ; At-Tirmidzi, 788 ; Al-Hakim, Sohih menurut Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban & Al-Hakim dan dipersetujui oleh Az-Zahabi ; albani ; Sohih).
7) Melakukan Maksiat seperti tidak solat :
Hukumnya : Tidak batal puasa menurut majoriti mazhab dan ulama. Akan tetapi dosa maksiat itu akan ditanggung berasingan mengikut jenis maksiat, malah mungkin bertambah besar dosanya kerana mencarik kehormatan Ramdhan. Pahala puasanya pula akan terhapus Selain itu, ia juga mencarikkan keseluruhan tujuan berpuasa iaitu bagi melahirkan insan taqwa dan jauh dari maksiat. (Qaradawi, hlm 104) Nabi bersabda : “Barangsiapa sempat bertemu Ramadhan dan tidak diampun dosanya, maka semakin jauh ia dengan Allah” (Riwayat Ibn Hibban)
Mencium lelaki dan wanita semasa berpuasa
Hukumnya : Mencium isteri atau suami tatkala berpuasa, tidak batal menurut majoriti ulama.
Ia berdasarkan beberapa dalil antaranya :-
كان رسول اللَّهِ يُقَبِّلُ وهو صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وهو صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كان أَمْلَكَ لِإِرْبِهِ
Ertinya : “Nabi S.a.w mencium dan bermesra (dengan isterinya) dalam keadaan ia berpuasa, tetapi baginda adalah seorang yang menguasai diri dan nafsunya” (Riwayat Abu Daud, 2/311 ; Syuaib arnaout : Sohih)
Dan satu lagi adalah : -
فجاء شاب فقال أقبل يا رسول الله وأنا صائم قال لا قال فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال النبي قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض إن الشيخ يملك نفسه رواه أحمد والطبراني في الكبير وفيه ابن لهيعة وحديثه حسن وفيه كلام
Ertinya : Kami bersama Nabi tiba-tiba didatangi oleh seorang pemuda dan bertanya : Aku berpuasa dan aku mencium isteriku, jawab nabi : Jangan ; tiba-tiba dating seorang tua dan bertanya soalan yang sama : Jawab nabi : Ye ( tiada masalah) ; kami kami saling berpandangan antara satu sama lain, maka nabi berkata :-
“aku tahu apa mengapa kamu saling berpandangan antara satu sama lain, sesungguhnya orang tua mampu mengawal dirinya (nafsu)” (Riwayat Ahmad dan At-Tabrani, sanad terdapat Ibn Lahi’ah yang diperkatakan tentangnya, menyebabkan hadis dianggap dhoif)
Al-Qaradawi pula menambah “berapa ramai orang tua zaman sekarang yang turut tidak mampu mengawal nafsunya ” (Fiqh As-Siyam, hlm 106 )
Kesimpulannya, ia tidak membatalkan puasa dan ciuman sebegini tidak harus jika ia boleh membawa mudarat seperti menaikkan nafsu dan boleh membawa kepada persetubuhan di siang hari ramadhan.
9) Wanita tamat haid
Wanita tamat haid pada waktu malam dan sempat niat pada waktu malamnya sebelum naik fajar subuh. Ia dikira sah walaupun belum mandi hadas. Jika ia tidak sempat berniat sebelum fajar subuh, seperti belum makan dan minum apa-apa pada pagi itu, kemudian pada jam 8 pagi haidnya kering, ia tidak dikira boleh berpuasa pada hari itu kerana tiada niat bagi puasa wajib boleh dibuat selepas terbit fajar.
Demikian juga ditegaskan oleh majoriti ulama (Al-Mughni, Ibn Quddamah, 4/201)
Dalilnya adalah :-
من لم يُجْمِعْ الصِّيَامَ قبل الْفَجْرِ فلا صِيَامَ له
Ertinya : “Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa sebelum fajar, tiada puasa (wajib) baginya” ( Riwayat Abu Daud, 3/108 ; Albani : Sohih )
10) Keluar air mazi
Air mazi adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki atau perempuan kerana naik syahwat. Banyak persoalan berkenaan keluarnya air mazi semasa berpuasa, samada ia membatalkan puasa atau tidak.?
Zahir dalam mazhab Hanbali menyatakan, ia membatalkan puasa.
Bagaimanapun mazhab Hanafi, Syafie, Awzai’e, Hasan albasri, As-Sya’bi dan Imam Ahmad dalam satu pendapatnya berfatwa keluarnya air mazi tidak membatalkan puasa. Saya lebih cenderung dengan pendapat ini.
11) Keluar air mani tanpa setubuh
Mencium dan menyentuh sehingga keluarnya mani dengan syahwat adalah membatalkan puasa dan wajib qadha, ia adalah disepakati oleh seluruh ulama.
Adapun keluarnya air mani hanya kerana berfikir lucah dan melihat dengan syahwat, ia tidaklah batal menurut sebahagian ulama termasuk mazhab Syafie, Hanafi. (Al-Mughni, 4/159)
Manakala mazhab Hanbali dan Maliki mengatakannya batal.
Walau bagaimanapun, saya lebih cenderung dengan pendapat yang mengatakannya batal kerana ia benar-benar bercanggah dengan tujuan dan maqasid puasa dalam Islam. Selain itu, ia juga adalah sama dengannya keluar mani kerana sentuhan.
Keluar air mani kerana bermimpi di siang hari Ramadhan atau kerana sakit tertentu. Sepakat ulama menyatakan ia tidak membatalkan puasa.
12) Menelan air liur
Hukum : Ia tidak membatalkan puasa disebabkan terlalu sukarnya untukmenjaga hal seperti ini. (Al-Mughni, Ibn Quddamah, 4/159)
13 ) Mandi
Tiada masalah untuk orang berpuasa mandi, ia tidak membatalkan puasa. Dalilnya adalah hadis yang menunjukkan Nabi s.a.w mengizinkan orang yang junub mandi selepas waktu subuh. Ibn Abbas juga pernah disebutkan mandi ketika berpuasa. Kecuali seseorang mandi sambil mencuri minum sebagaimana yang mungkin dilakukan oleh para remaja dan lainnya, maka ia batal kerana minum dan bukan mandi itu sendiri.
14) Berniat berbuka atau membatalkan puasa sebelum waktu.
Tindakan sebegini adalah membatalkan puasa menurut mazhab Syafie, Hanbali dan Hanafi. Cuma jika dengan segera seseorang itu kembali berniat dan membetulkan niatnya tadi, puasa tidak terbatal.
Justeru, seluruh individu berpuasa wajib menjaga niatnya agar tidak terpesong untuk membatalkannya. Imam Ibn Quddamah menolak pandagan yang mengatakan tidak batal kerana ibadah itu adalah berdasarkan niat seperti solat juga yang akan terbatal jika berniat membatalkannya. (Al-Mughni, 4/175)
Sekian,
Ramadhan Al-Mubarak dan selamat menjalani ibadah puasa untuk semua pengunjung zaharuddin.net
Zaharuddin Abd Rahman
13 Sept 2007
01 Ramadhan 1428 H
Thursday, September 10, 2009
Perkara yang Tidak Membatalkan Puasa
(Anjuran Institut Kajian Sains dan Perubatan Sultan Hassan II dengan kerjasama Akademi Fiqh Islam serta WHO -World Health Organization)
Ahli majlis/peserta seminar tersebut telah sepakat bersetuju bahawa perkara-perkara berikut TIDAK MEMBATALKAN PUASA.
1. Ubat titis mata, titis telinga dan basuh telinga
2. Ubat tablet bawah lidah yang digunakan oleh pesakit Angina (Jantung). [contoh: Sublingual Gliceryl Trinitrate]
3. Memasukkan ubat melalui faraj, memasukkan alat perubatan, membasuh, memasukkan spekulum dan jari doktor atau bidan semasa pemeriksaan vagina (sebelum bersalin) [contoh: vaginal examination, speculum examination, cervagem]
4. Memasukkan teropong ke salur kencing lelaki atau perempuan untuk penyediaan x-ray. [contoh: cystoscopy]5. Menampal, mencabut, mengorek dan mencuci gigi atau menggunakan alatan dan berus gigi, dengan syarat TIADA apa-apa bahan yang memasuki perut dari prosedur tersebut. [contoh: Dental procedure]
6. Suntikan melalui kulit, otot, sendi atau pembuluh darah, KECUALI memberi makanan melalui pembuluh darah. [makanan i.e Total Parenteral Nutrition regime. Not sure about IV drips, vitamins, glucose, but if needed for therapeutic purposes, then it is Harus]
7. Penderma atau menerima pemindahan darah
8. Oksigen dan gas bius
9. Semua jenis bahan yang boleh menyerap ke dalam badan melalui kulit seperti krim, jelly atau plaster berubat
10. Mengambil sampel darah untuk ujian makmal
11. Sesalur dan bahan perantara untuk arteriography (pemeriksaan x-ray khas jantung) atau organ lain. [contoh: Angiography, contrast for imaging]
12. Teropong dalam rongga perut (endoskopi) untuk mencari punca penyakit.
13. Membasuh mulut, berkumur atau semburan mulut, dengan syarat tiada bahan masuk ke dalam perut. [contoh: Ear Nose Throat examination]
14. Teropong ke dalam salur peranakan atau memasukkan alat kedalamnya, (contoh: Intra Uterine Contraceptive Device)
15. Mengambil tisu (biopsi) hati atau organ lain.
Sementara iu majoriti peserta (terdapat minoriti yang tidak bersetuju ) menambah perkara berikut TIDAK MEMBATALKAN PUASA [No 16 sehingga 20]
16. Ubat titis hidung, semburan hidung dan ubat sedut
- Keharusan penggunaan inhaler bagi pesakit asma juga harus berdasarkan fatwa umum dalam masalah ini oleh Syeikhul Islam Ibn Taymiyah. Keharusan ini meliputi teknik perubatan yang tidak menggunakan makanan atau minuman. Jika dari jenis debu maka diharuskan.
- Imam Ibn Hazm al-Andalusi (Kitab al-Muhalla) juga berpendapat tidak batal puasa dalam urusan perubatan termasuk suntikan atau menghirup serbuk.
17. Suntikan ke dalam dubur, teropong dan pemeriksaan digital ke dalam dubur.
18. Pembedahan yang melibatkan bius sepenuhnya jika pesakit mengambil keputusan untuk berpuasa
20. Penggunaan teropong perut, dengan syarat tidak memasukkan apa-apa bahan cecair atau bahan seumpamanya ke dalam perut [tidak pasti: saline for washout]